MAKNA DIRI

Calvin dalam bukunya “Institute of Christian Religion” menegaskan bahwa “hikmat kita, sebagaimana sepatutnya benar, teruji dan teguh, terdiri dari dua bagian: pengenalan akan Allah dan pengenalan diri kita sendiri.” Keduanya yaitu pengenalan akan Allah dan pengenalan diri sendiri berpadu dalam kehidupan kita berdasarkan wahyu Allah.

Pengenalan akan Allah menghantar kita mengenal diri sendiri sekaligus memampukan kita menempatkan diri dengan benar di hadapan-Nya. Peranan dan tanggung jawab diri tidak diabaikan dalam pengenalan akan Allah.

Kisah kehidupan Israel di Mesir sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Keluaran 1:1-2:10 memberikan contoh penjelasan tema kita.

  1. Kitab Keluaran dimulai dengan daftar nama anak Israel yang datang ke Mesir bersama-sama dengan Yakub (1:1). Nama mereka disebutkan. Nama menyatakan identitas sekaligus menyatakan diri seseorang. Dengan menyebutkan nama-nama anak Israel, kitab Keluaran menyatakan bahwa kedatangan Israel ke Mesir bukanlah sebagai orang tanpa identitas. Mereka menyadari diri mereka sebagai umat Allah, keturunan Yakub. Namun, kehidupan mereka di Mesir setelah Yusuf wafat, berubah. Dari orang bebas menjadi budak.

    Dari orang-orang yang mengenal diri dan memiliki nama sebagai anak Yakub, menjadi budak tanpa nama, budak tanpa perlu kesadaran akan diri (1:14). Kekejaman Mesir yang memahitkan hidup mereka menghilangkan ‘nama’ mereka. Mereka selanjutnya dipanggil dengan sebutan budak.

    Jikalau mereka datang ke Mesir dengan nama, kini mereka kehilangan ‘nama’ mereka. ‘Nama’ baru muncul kembali di 2:10. Bayi kecil yang dihanyutkan di tengah-tengah teberau di tepi sungai nil (2:3), di tangan puteri Firaun diberi nama, namanya adalah Musa! Inilah permulaan kasih karunia TUHAN bagi bangsa Israel. Tanpa pengenalan akan diri dengan benar dalam pengenalan akan Allah, manusia tidak akan bertindak dengan benar. Kini kita mempunyai nama, namun apakah kita mempunyai pengenalan akan diri dengan benar? Ataukah keadaan telah memahitkan hidup kita bahkan menghilangkan kesadaran yang benar akan diri?
     
  2. Mengapa raja baru Mesir menindas Israel yang sudah sekian lama tinggal dengan damai di sana? Kitab Keluaran 1:8 memberikan jawabannya. Raja baru Mesir tidak mengenal Yusuf. Kata kuncinya adalah “tidak mengenal Yusuf.” Mesir mulai melupakan sejarahnya. Melupakan kebaikan yang dikerjakan Yusuf kepada bangsa Mesir. Dan lebih dalam lagi melupakan nama Yusuf. Tindakan seseorang tidak dapat dipisahkan dari apa yang menjadi keprihatinannya. Ketidak pedulian atau kepedulian seseorang akan berdampak dalam kehidupannya. Demikian pula dengan kepedulian kita akan siapakah diri kita di hadapan TUHAN.

    Sikap raja baru Mesir sangat berbeda dengan sikap kakak perempuan bayi yang ditaruh dalam peti dan dihanyutkan di sungai Nil (2:3). Ketika ia harus meletakkan adiknya di sungai Nil agar selamat dari ancaman pembunuhan raja Mesir, ia tidak segera meninggalkannya. “Ia berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia [adiknya].” (2:4 to know what would be done to him). Ia ingin tahu karena ia peduli kepada adiknya sekalipun adiknya belum disebutkan namanya. Belum memiliki nama, namun karena ada yang peduli, bayi itu adalah suatu diri yang patut dijaga. Kepedulian pengenalan akan diri di hadapan TUHAN, memberikan kesadaran bagaimana menghargai diri dan hidup dengan benar.
     
  3. Raja baru Mesir setelah tidak lagi mengenal Yusuf, mulailah ia memandang Isreal bukan dengan nama mereka. Ia mulai memandang Israel sebagai jumlah yang banyak (1:7). Anak-anak Israel bukan lagi sesama manusia, melainkan kini dipandang sebagai jumlah angka yang membahayakan bagi kekuasaan raja baru Mesir. Ketika anak-anak Israel dipandang sebagai jumlah, bahkan jumlah yang berlipat ganda, maka segeralah diikuti dengan penindasan  dan ketakutan pada orang Mesir (1:12). Ketika pengenalan akan diri di hadapan TUHAN digantikan dengan angka, atau dengan kekuasaan, atau dengan uang, atau dengan ancaman, maka terjadi selanjutnya adalah penindasan, dan ketakutan yang disusul dengan ancaman dan kematian.

    Persoalan anak-anak Israel dijadikan raja Mesir persoalan semua orang Mesir. Anak-anak Israel kehilangan nama mereka. Kini dipandang hanya sebagai jumlah yang mengancam. Keadaan ini berbeda dengan pertemuan puteri Firaun dengan bayi Ibrani di dalam peti di tepi sungai Nil. Puteri Firaun melihat bayi Ibrani itu dan ia berbelas kasihan kepadanya (2:6). Bayi ini beroleh belas kasihan, beroleh kepedulian. Ia adalah seorang manusia. Inilah permulaan jalan kelepasan bagi Israel yang sudah berubah menjadi budak di Mesir.
     
  4. Kesadaran raja Mesir memandang anak-anak Israel sebagai jumlah belaka diikuti dengan seruannya untuk bertindak bijaksana terhadap mereka (1:10). Ini menarik perhatian kita karena kata “bijaksana” dikaitkan dengan memahami sesamanya sebagai jumlah. Keduanya tidak berpadu, bijaksana tanpa pengenalan yang benar akan diri sendiri dan sesamanya. Maka tindakan raja Mesir justru menjadi tindakan yang menghasilkan pembangkangan oleh dua bidan Mesir, Sifra dan Pua (1:15,17). Bijaksana bukan sekedar strategi untuk menghancurkan musuh dan ancaman. Bijaksana juga sekedar kehebatan untuk mengamankan diri sendiri belaka. Bijaksana tidak dapat dipisahkan dari pengenalan akan diri sendiri dan sesama di hadapan TUHAN.

Bagian ini adalah bagian yang penting. Kita mudah mengabaikan pengenalan diri kita dan menganggapnya suatu yang otomatis dimiliki oleh setiap manusia. Alkitab menegaskan kepada kita, pengenalan akan diri sendiri dan sesama hanya kita dapatkan di dalam anugerah TUHAN, pencipta dan penebus kita sebagaimana Paulus katakan “Tetapi karena kasih karunia  Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (I Korintus 15:10).

Total votes: 202
Go to top