NATAL DAN TUBUH (3) : Palungan: Antara Kemuliaan dan Kecukupan (Glory and Sufficient)


LUKAS 2:9-16
9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:  11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." 13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."  15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."  16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

Kedatangan Yesus Kristus, Firman menjadi daging, yaitu kedatangan dengan tubuh Ia hadir di dalam dunia ini. Kehadiran-Nya dengan tubuh memerlukan tempat.  “Tempat” pertama kehadiran-Nya adalah rahim (womb) anak dara. Inilah “tempat” pertama kehadiran Anak Allah di dalam dunia ini. Namun kita tidak berhenti pada rahim anak dara yang bernama Maria, kita dihantar memahami keajaiban karya Roh Kudus menaungi rahim itu. Lukas 1:35 “The Holy Spirit will come upon you, and the power of the Most High will overshadow you.”

“Tempat” kedua dicatat oleh Lukas adalah palungan (manger). Bayi itu “dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:12). Bayi dan palungan. Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana pendapat kita ketika menyaksikan ada bayi dalam palungan? Kita dengan mudah menyatakan keprihatinan kita karena palungan menyatakan kemiskinan dan kepapaan. Palungan melukiskan kerendahan dan ketidak berdayaan. Lalu bagaimana kita memahami bayi itu? Apakah kita memahami bayi terbaring dalam palungan sebagai bayi yang hina? Bayi yang patit dikasihani? Kita perlu bersabar sebelum mengambil kesimpulan demikian.

Pertama-tama kita perlu memahami rangkaian peristiwa Lukas 2:9-16. Malaikat memberitahukan kepada para gembala akan bayi yang terbaring dalam palungan. Setelah mendengar berita itu, para gembala pergi ke Bethlehem untuk melihat (hora) bayi yang diberitakan itu terbaring dalam palungan. Berita ini berasal dari para malaikat.  Jelaslah peristiwa ini bukan peristiwa sehari-hari yang kita dengar dari kata orang, ataupun dari media massa. Peristiwa bayi terbaring dalam palungan perlu dipahami dalam rangkaian peristiwanya.

1. Peristiwa kelahiran “seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (2:12) merupakan tanda (semeion).

2. Ketika berita itu disampaikan kepada para gembala, “kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka” (2:9).

Peristiwa kelahiran bayi Yesus terbaring dalam palungan, dinyatakan dalam dua tema penting, yaitu tanda dan kemuliaan Tuhan. Bagaimana kita memahaminya?

“Bayi terbaring dalam palungan” merupakan tanda. Tanda yang dimulai dengan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi para gembala. Kemuliaan Tuhan berasal dari Tuhan. Ia berkenan menyatakan kemuliaan-Nya bahkan meliputi para gembala. Kemuliaan bukan berasal dari manusia. 

Apakah makna “tanda” itu? Tubuh-Nya dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Menurut Meredith G. Kline dari Westmineter Seminary California,  tanda itu adalah pakaian-Nya dan posisinya dibaringkan di palungan. Inilah kerelaan-Nya untuk menanggalkan jubah kemuliaan-Nya dan tempat-Nya di Surga. Menarik disimak, Kline mengaitkan lampin dan palungan menyatakan kerelaan-Nya untuk menanggalkan kemulian-Nya. 

Ketika Adam dan Hawa diciptakan, mereka tidak mengenakan pakaian, dan tidak merasa malu. Ketika mereka berdosa, mereka merasa malu. Malu ada kaitannya dengan mulia. Sebelum berdosa, tubuh Adam dan Hawa bersalutkan kemuliaan yang TUHAN berikan.  Itulah yang membuat mereka tidak merasa malu, karena ada mulia. Dosa, tegas Paulus, membuat manusia hilang kemuliaan Allah (Roma 3:23).

Pakaian bagi tubuh berkenaan dengan kemuliaan. Setelah manusia berdosa, manusia menggunakan pakaian untuk menggantikan kemuliaan Allah yang hilang. Dengan kemuliaan itulah manusia tidak akan merasa malu. Sepanjang sejarah peradaban, manusia berusaha mendisain kemegahan dengan pakaian, kebesaran, kehormatan, keagungan. Jubah maha indah yang dipakai Yusuf membuat cemburu saudara-saudaranya oleh karena jubah itu menandai kemuliaan Yusuf melebihi mereka.

Pakaian kini menjadi “kemuliaan” bagi manusia. Peristiwa kelahiran bayi Yesus mengingatkan kita bahwa kemuliaan ada kaitan dengan pakaian namun kemuliaan bukan berasal dari pakaian. Kemuliaan berasal dari TUHAN Allah. Kemuliaan bukan berasal dari jubah putih. Kemuliaan tidak dapat digantikan dengan jubah maha indah.

Maka bayi itu dibungkus dengan lampin, namun kemuliaan Allah meliputi para gembala yang mendengar berita “sederhana” itu.

Bagaimana dengan tubuh kita? 

Kita acap kali menggemakan seruan “apa yang hendak aku makan dan minum,” dan “apa yang hendak aku pakai,.” (Matius 6:25). Perkataan itu membawa kita kepada kekuatiran. Makan, minum dan pakaian kini menjadi “kemuliaan” kita. Kita menjadi apa yang kita makan, minum atau pakai. Kita lupa kemuliaan yang sejati datangnya dari TUHAN Allah. Kemuliaan itulah yang kita perlukan untuk meliputi kita oleh kasih karunia-Nya. 

Bagaimana dengan “kemuliaan” tubuh kita ketika kita menghampiri “bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”? Adakah tubuh kita menyatakan kemuliaan-Nya karena kita berjalan dalam kebenaran-Nya? Makan, minum dan pakaian kita menyatakan “kemuliaan” Allah bukan pada makan, minum dan pakaiannya, melainkan merupakan pancaran dari hati yang terus menerus diperbarui oleh Roh kebenaran.

(bersambung: Kecukupan)

 


Artikel ini dapat saudara/i teruskan dengan menuliskan pengarang: Pdt. Joshua Lie, dan diambil dari wkristenonline.org

 

 

Total votes: 201
Go to top