Perempuan itu bernama: MIRYAM

 

Pertama kali kita bertemu dengan Miryam, ia disebut sebagai kakak perempuan Musa. Meskipun tanpa nama awalnya, Miryam bukanlah sekedar kakak perempuan. Ia adalah seorang kakak perempuan yang melakukan tindakan yang sigap dan bijak. Ia mewujudkan Amsal 31:17 tentang perempuan yang bijak: “Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.”

Ia menjadi teladan bagi kita dalam kesigapannya bertindak mewujudkan kehendak TUHAN bagi pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir.

  1. Dalam tradisi Yahudi dikisahkan tentang ayahnya yang bermaksud menceraikan ibunya disebabkan perintah Firaun untuk membunuh anak laki-laki Israel. Dengan menceraikan ibunya, ayahnya bermaksud menghindari lahirnya anak laki-laki dalam keluarganya. Miryam dikisahkan menyatakan keberatan atas rencana ayahnya itu. Bukankah dengan ia menceraikan ibunya, bukan hanya anak laki-laki tidak mungkin dilahirkan dalam keluarganya tetapi juga kemungkinan anak perempuan dilahirkan. Kisah ini tidak ada dalam Kitab Keluaran, namun menunjukkan kepada kita kepekaan Miryam memahami kehendak TUHAN.



    Firaun berusaha mencegah munculnya pembebas dari bangsa Israel. Ia memberikan perintah untuk membunuh anak laki-laki Israel. Namun TUHAN menyatakan kehendak-Nya melalui para perempuan! TUHAN mempersiapkan Musa melalui tangan-tangan perempuan mulai dari ibunya, kakak perempuannya sampai puteri Firaun.
     
  2. Kitab Keluaran menyatakan Miryam, seorang kakak perempuan bukanlah seorang yang termenung tanpa daya. Ia “berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia [Musa]” (2:4). Yang Miryam lakukan seolah-olah sederhana sebagai seorang kakak perempuan terhadap adiknya. Ia menyatakan keprihatinannya kepada Musa, adiknya itu. Namun Miryam tidak berhenti dengan keprihatinannya. Ia tidak membiarkan perasaannya hanyut bersamaan dengan hanyutnya peti yang membawa adiknya itu. Ia memahami panggilannya.

    Ketika tiba saatnya, adiknya diambil dari sungai Nil oleh puteri Firaun. Miryam ada disana! Apa yang dilakukannya? Berdiam? Bersyukur lalu pergi? Ia menghampiri puteri Firaun dan berkata, “Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?” (2:7).

    Kata-katanya menyatakan bijaksananya. Ia tidak hanya mengasihi adiknya sebagai layaknya seorang kakak perempuan namun ia seorang yang menunjukkan pemahamannya akan pemeliharaan TUHAN. Ia berulang kali menyatakan “bagi tuan puteri.” Ia tidak menyatakan kepentingannya. Ia memahami kepentingan yang lebih besar. Adiknya aman di tangan puteri Firaun sekalipun harus berpisah darinya. Ia tidak cemas akan masa depan adiknya. TUHAN sanggup menggenapi perjanjian-Nya.


     
  3. Kita bertemu kembali dengan Miryam dengan namanya disebut (Keluaran 15:20). Tindakannya berbuah bagi pembebasan Israel. TUHAN menggenapi perjanjian-Nya. Miryam yang kita kenal sebagai kakak perempuan Musa, kini disebut sebagai nabiah dan saudara perempuan Harun. Ia yang pernah berada di tepi sungai Nil, kini menyaksikan sendiri kekuatan TUHAN mengeringkan laut Teberau. Air sungai Nil dipakai TUHAN menghantarkan adiknya ke tangan puteri Firaun. Kini air laut dipakai TUHAN untuk menyelamatkan Israel dari tentara berkuda Mesir.

    Miryam menggemakan nyanyian Musa “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.” (15:21) dengan suara dan alat musik yang dimainkannya serta memimpin segenap kaum perempuan memuji TUHAN. Bahkan selanjutnya ia mengajak segenap jemaat untuk memuji TUHAN. Bangsa yang ratusan tahun di Mesir, bahkan telah mengecap rasa sebagai budak, kini menjadi bangsa yang merdeka. Mereka memerlukan pujian dan tarian sebagai bangsa yang merdeka untuk mengingat siapa yang memerdekakan mereka. Pujian dan tarian di hadapan TUHAN memberikan arah dan kekuatan bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan.


     
  4. Waktu terus bergulir. Israel tiba di padang belantara. Kita bertemu kembali dengan Miryam (Bilangan 12:1-16). Kita bertemu dengan kakak beradik, Miryam, Harun dan Musa.  Ketika Miryam dan Harun menegur Musa soal perempuan Kush yang diambilnya, kita seolah dihantar ke persoalan kakak-adik (Bilangan 12:1). Namun ayat selanjutnya menyatakan suatu yang serius. Miryam dan Harun mempertanyakan otoritas Musa sebagai perantara yang ditetapkan TUHAN. “Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?”

    Alur Bilangan 12 jalin menjalin antara urusan kakak-adik dengan ketetapan TUHAN yang memanggil dan menempatkan setiap orang dalam pelayanan. Musa, Miryam dan Harun adalah kakak beradik. Jalinan ini mewarnai kehidupan Miryam dan Musa khususnya. Dalam peristiwa di tepi sungai Nil, Miryam berperanan sebagai kakak perempuan, dan setelah melalui laut Teberau, ia berperanan sebagai nabiah. Kini dalam Bilangan 12, Miryam berperanan sebagai kakak perempuan dan nabiah ketika ia mengecam Musa soal perempuan Kush dan soal ketetapan TUHAN atas Musa sebagai perantara.

    Ketika kedudukannya dipertanyakan, Musa dikatakan sebagai orang yang lembut hatinya sedang bergumul dengan panggilannya. Musa bergumul apakah ia sanggup menanggung panggilan TUHAN. Inilah yang dikatakannya, “Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberikan Roh-Nya hinggap kepada mereka!” (Bilangan 11:29). Miryam seolah mendengar keluhan Musa, dengan sigap mau mengambil tanggung jawab itu.

    Kali ini TUHAN yang memberikan jawaban-Nya. TUHAN berfirman, “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia [Musa] terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?” (12:8). TUHAN sendiri yang menetapkan Musa. Miryam kali ini perlu belajar dalam kesigapannya akan kesucian TUHAN. Maka ketika TUHAN meninggalkannya, Miryam terkena kusta, kulitnya “putih seperti salju” (12:10). Kalimat “putih seperti salju” menyatakan kesucian TUHAN telah dilanggar.

    Miryam di padang belantara, jauh dari gejolak sungai dan laut, perlu belajar memahami ketetapan TUHAN meskipun sukar dipahami. Miryam beroleh kesempatan berdiam diri selama tujuh hari lamanya. TUHAN mendengar seruan Musa yang memohon bagi kesembuhan Miryam. Bangsa Israel tetap menghormatinya dengan menunggu sampai ia sembuh, barulah mereka berangkat melanjutkan perjalanan.
     
  5. Terakhir kita bertemu dengan Miryam dalam Bilangan 20. Di padang gurun Zin, di Kadesh, matilah Miryam dan dikuburkan di situ. Selesailah tugasnya. Seorang perempuan yang selalu siap sedia berbuat yang terbaik. Seorang perempuan yang tidak dapat berdiam melihat keadaan umat Allah tanpa pengharapan. Ia memimpin umat Allah memuji TUHAN. Ia seorang yang siap menghadapi air sungai Nil dengan pengharapan. Ia pula yang melihat laut sebagai penghukuman TUHAN bagi Mesir dan kebebasan bagi bangsanya. Bagaimana kita mengingat dia?

    Bilangan 20:1 menyatakan matinya Miryam. Ayat selanjutnya dimulai dengan kalimat “There was no water…” Israel mengalami kelangkaan air. Air mengingatkan kita akan peranan Miryam. Kita perlu seorang yang sigap mengerjakan panggilannya dengan iman, kasih dan pengharapan akan penggenapan kehendak TUHAN. Ia tidak mementingkan dirinya sendiri. Ia rela berpisah dengan adiknya dalam pengharapan. Kita perlu seorang yang sedia belajar akan kesucian TUHAN, agar tetap dapat menahan diri tidak melampaui batas. Inilah keagungan Miryam. Ia merangkai kehidupannya dalam ketetapan dan kehendak TUHAN.

 

 

 

 

 

Total votes: 312
Go to top