Renungan Natal 2011

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merenung artinya diam memikirkan sesuatu, memikirkan atau mempertimbangkan dalam-dalam. Mengapa kita perlu merenungkan peristiwa Natal? Bukan untuk membuat kita termangu, bukan pula untuk mengenang atau sekedar nostalgia bulan Desember melainkan untuk memahami dan mengalami Natal yang sesungguhnya. Renungan pendek bermaksud menemani bapak/ibu/sdr/sdri untuk mengalami kelimpahan kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus dalam peringatan Natal.

Mari kita renungkan bersama:

1. Kelahiran Yesus Kristus merupakan peristiwa menakjubkan. Perpaduan antara Ilahi dan manusiawi berlangsung tanpa meniadakan ataupun merusak satu dengan lainnya. Kelahiran-Nya berlangsung dalam rahim perawan yang bernama Maria, oleh Roh Allah yang menenunnya. Dan bayi yang dilahirkan itu selayaknya bayi-bayi lainnya, bergantung sepenuhnya kepada sang ibu yang menjaga dan merawat-Nya. Saat yang sama, kelahiran bayi itu telah menakjubkan sang ibu ketika mendengar berita yang disampaikan Malaikat. Maria, seorang yang beribadah, tidak menyangkal maksud Allah baginya. Namun yang menjadi persoalan baginya adalah “bagaimana.” “Bagaimana hal ini mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34). Gereja sebagai umat tebusan TUHAN, sudah sepatutnya siap sedia seperti Maria ketika menerima maksud dan rencana TUHAN Allah atasnya. Namun pertanyaan Maria, mendorong kita untuk merenungkan langkah berikutnya. Langkah yang di dalamnya kita turut serta dalam maksud Allah itu. “Bagaimana” hal itu mungkin terjadi, merupakan kesediaan kita untuk turut serta sekaligus menguji apakah langkah kita seturut dengan maksud Allah yang kita terima itu. Gereja tidak hanya memahami misi dan visi TUHAN Yesus Kristus, namun memahami pula bagaimana turut serta dalam misi dan visi itu sehingga kasih karunia Allah digenapi di dalam dunia yang berdosa ini.

2. Hukum Taurat mengatur segala rangkaian kehidupan umat Allah. Ketika sejarah telah menjadi tradisi maka hukum berubah menjadi semacam peta kehidupan. Sebagai peta, hukum menjadi alat pengukur, alat pemberi kepastian, dan alat yang memberi kenyamanan dalam perjalanan. Rangkaian seorang sejak dilahirkan ditetapkan. Umur delapan hari perlu disunat. Ketika waktu genap pentahiran bagi sang ibu, segenap keluarga perlu datang ke Yerusalem. Demikian pula sang bayi, perlu pula dibawa ke Bait Allah. Demikianlah perjalanan kehidupan umat Allah pada masa itu. Namun menariknya, sebagai peta di tangan para ahli Taurat, hukum tidak lagi menyiapkan orang untuk mengenali kedatangan TUHAN yang memberikan hukum Taurat itu. Lukas setelah menguraikan rangkaian penggenapan hukum Taurat di dalam kehidupan Yesus, menguraikan respon yang benar terhadap hukum Taurat dengan menyebut “there was a man…” (Lukas 2:25). Nama Simeon adalah nama yang umum pada waktu itu. Namun kalimat Lukas  menjadi tidak lumrah karena “there was a man…,” yaitu Simeon yang satu ini berbeda dari yang lainnya. Oleh karena ia disebutkan sebagai “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel.” Simeon memahami hukum bukan sekedar seperti map (apalagi GPS), melainkan ia turut serta dalam rangkaian penggenapan maksud Allah. Ia menantikan penghiburan bagi Israel. Ia bukan sekedar menggunakan map untuk mengukur orang lain, atau memberi kenyamanan diri sendiri. Ia menantikan… Ia menunggu penggenapan janji Allah. Hukum Taurat itu baik dan suci. Hukum Taurat bermaksud menghantar kita kepada TUHAN yang datang, bukan malah menjauhkan kita dan menjadikan kita buta dan picik dengan keangkuhan diri sendiri sebagai manusia pewaris hukum suci itu.

 

3. Ketika anda adalah seorang pemilik perusahaan besar dan termasuk dalam 40 terbesar di Indonesia, tiba-tiba datang tamu yang tidak diundang dengan jas yang mewah dan penampilan yang meyakinkan. Lalu sang tamu bertanya di manakah pemilik perusahaan yang baru diangkat, bagaimana respon anda? Inilah pengalaman Herodes. Orang Majus dari Timur datang dan bertanya kepadanya “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?” (Matius 2:2) Herodes tentu saja terpikat dengan pertanyaan ini. Ia menyelidiki, memberikan perhatian dengan seksama, dan mengambil sikap. Batinnya goncang, Jantungnya berdetak keras bahkan dikatakan “ia beserta seluruh Yerusalem terkejut.” Mungkin satu-satunya yang begitu memperhatikan berita kelahiran Yesus adalah Herodes. Apakah kita menunggu berita kedatangan Tuhan Yesus menggelisahkan batin kita dulu baru mau memperhatikannya? Namun Herodes salah sangka. Matius tidak menyangkal bahwa ialah raja tanah Yudea (2:1). Kelahiran Mesias bukan mau menyaingi kedudukannya sebagai raja tanah Yudea. Sayang sekalipun ia telah mendengar nubuatan yang disampaikan semua imam dan ahli Taurat bangsa Yahudi tentang Raja damai yang sesungguhnya, ia tidak memperhatikan berita kelahiran Yesus semestinya. Ia malah menganggap berita itu sebagai berita kudeta. Bagaimana gereja menyatakan berita kelahiran Juruselamat sehingga menghantar sesama kepada pertobatan? Bagaimana pula sikap kita mendengar kembali berita kelahiran Sang Juruselamat? Sudah biasa atau sekali lagi mengalami kelimpahan kasih karunia-Nya.

 

4. Sebagai penutup renungan pendek ini, mari kita mengamati sekitar kita. Natal sudah mentradisi dalam kehidupan kita. Ada dekorasi kandang, palungan dan sepasang suami istri bersama bayinya, ada pula pohon dengan hiasan lampu kelap-kelip yang indah. Darimana semuanya itu? Pada tahun 1223, Fransiskus meletakkan sebuah palungan dikelilingi dengan orang Majus, gembala, dan binatang yang melukiskan Yesaya 1:3 di sebuah gereja pada malam Natal. Luther mewarisi kita dengan pohon natal yang selalu hijau dengan lilin dan hiasan lampu kelap-kelip berangkai dengan pengalamannya ketika ia pada malam natal beroleh penghiburan Tuhan melalui bintang-bintang yang bersinar terang dalam perjalanannya. Dan “Christmas is giving” mulai dari jaman ratu Victoria di Inggris. Charles Dicken mewariskan natal dengan semangat memberi melalui kisah uncle Scrooge dalam kisah “Christmas Carol.” Natal adalah pemberian, natal adalah sharing, berbagi Injil keselamatan, berbagi sukacita, berbagi duka dan saling menghibur, berbagi berkat dengan saling menolong karena kita sudah dan terus menerus beroleh berkat dari Allah, sumber segala baik. Apakah yang kita warisi bagi generasi kita selanjutnya dalam segala kegiatan natal kita saat ini?

 

Selamat mengalami kembali kelimpahan kasih karunia Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus dalam Natal 2011.

 

“For you know the grace of our Lord Jesus Christ, that though he was rich, yet for your sake he became poor, so that you by his poverty might become rich.” (2 Cor. 8:9)

 

 

Total votes: 282
Go to top