Menantikan Penghiburan

Christmas Message 2012

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Lukas 2:25-32)

GF Handel memulai oratio Messiah-nya dengan seruan dari Kitab Nabi Yesaya, “Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu.” Semakin terasa perlunya penghiburan yang sejati di kala berbagai kepedihan dan kekuatiran dekat dengan kita. Ketika ada peluru dihamburkan di antara anak-anak sekolah dasar, ketika pemimpin menutup telinga akan keamanan warganya, ketika kemiskinan menjerat manusia dalam kehinaan, dan ketika keluarga terpecah dan runtuh, kita memerlukan penghiburan dari Sang Pencipta.

Kita tidak dapat menyangkal adanya penderitaan, kesengsaraan, kedukaan, kekecewaan, ketakutan, kegelisahan, ketegangan, bahkan kematian di dalam dunia yang berdosa ini. Namun yang lebih menakutkan adalah tidak ada yang menghibur mereka yang sedang mengalami semuanya itu (Pengkhotbah 4:1). Manusia yang rentan terhadap segala penderitaan memerlukan penghiburan.

Penghiburan menjadi kebutuhan nyata bagi seorang negarawan dan filsuf ternama setelah Agustinus. Ia adalah Boethius (c 476-526). Ia menulis buku yang berjudul The Consolation of Philosophy, ketika hidupnya tiba-tiba jungkir balik, dari posisi sebagai konsul bagi Theodoric the Ostrogothic, raja Italia, dengan segala kehormatan dan kemuliaannya, menjadi tawanan penjara yang pengap dengan tuduhan pengkhianat. Tidak mudah ia menghadapi keadaannya, namun yang ia sadar yang diperlukan adalah penghiburan. Bukunya mencatat kemenangan akal budi dan pengharapan atas bencana dan ketidak beruntungan.

Penghiburan, inilah yang kita perlukan. Tantangan berikutnya adalah penghiburan macam apa? Penghiburan dari mana? Bagaimana kita menantikan penghiburan itu? Saatnya kita mengenali kembali seorang yang bernama Simeon. Seorang yang benar dan saleh. Seorang yang menantikan penghiburan bagi Israel. Dalam kehidupan Simeon, penghiburan dirangkaikan dengan penantian, bukan dengan sekedar penjelasan rasional. Bagi Kierkegaard, Simeon adalah contoh penting tentang kesabaran dan penantian akan penghiburang yang sejati.

Tiga rangkaian karya Roh Kudus tampak dalam sikap penantian Simeon. Karya Roh Kudus acap kali kita pahami terlepas dari sikap kehidupan seseorang. Tidaklah demikian dalam kehidupan Simeon.

Pertama, Roh Kudus berada di atas Simeon (The Holy Spirit was upon him, 2:25) dirangkai dengan sikap penantian Simeon. Kata yang digunakan adalah prosdechomenois, menyatakan sikap menanti dengan antisipasi dalam kesabaran. Simeon dimampukan memperhitungkan hal-hal yang akan terjadi, namun pada saat yang sama ia sabar menempatkan hari depan sebagai hari depan, sebagaimana ia menempatkan hari ini sebagai hari ini. Simeon mengantisipasi yang di depan, tanpa tergesa-gesa sehingga membuatnya kehilangan tanggung jawabnya. Inilah yang dikatakan Tuhan Yesus tentang tidak perlunya kuatir akan hari besok “karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri” (Matius 6:34).

Kedua, Roh Kudus menyatakan kepada Simeon tentang pengharapannya melihat Sang Mesias. Simeon tidak akan mati sebelum bertemu dengan Yesus Kristus. Bagaimana rangkaian antara karya Roh Kudus dengan kematian Simeon? Kata “menyatakan” (chrematizo, 2:26) bukan sekedar memberitahukan sesuatu, atau sekedar informasi tetapi melibatkan orang yang menerima pernyataan itu untuk berespon. Maka tidaklah mengherankan pernyataan Roh Kudus langsung berkaitan dengan pernyataan bahwa penantian Simeon tidak akan diinterupsi oleh kematian. Ketika jaman kita dipenuhi dengan segala ramalan, sadar atau tidak, kita sudah dilibatkan ke dalamnya. Dalam penantian akan kedatangan-Nya kembali, kita perlu menyadari kebenaran yang di dalamnya kita menyerahkan hidup kita sehingga kita tidak terjebak membiarkan penantian kita dalam kepalsuan.

Ketiga, Roh Kudus memimpin Simeon ke Bait Allah. Masa penantian bukan masa kemalasan. Simeon datang ke Bait Allah. Sebagaimana biasanya di Bait Allah segala kegiatan berulang berlangsung sesuai dengan aturan Hukum Taurat. Namun mata Simeon dimampukan melihat Sang Mesias. Masa penantian bukanlah pula masa kebutaan. Bukan masa kita serba meraba-raba dan menduga-duga. Namun masa Roh Kudus memimpin selangkah demi selangkah dalam kehidupan kita dalam kebenaran. Kita tidak memiliki kemampuan sekaligus memahami seluruh kebenaran Allah. Namun kita juga tidak hidup tanpa kebenaran yang dibukakan selangkah demi selangkah. Masa penantian adalah masa mata kita dicelikkan memahami penggenapan janji Tuhan. Masa penghiburan yang memuaskan penantian yang tengah berlangsung. Dan masing-masing kita ada bagiannya sebelum tiba berakhirnya perjalanan kita di dunia ini. Maka berkumandanglah pujian Simeon, Nunc dimittis, 'Now dismiss“Sekarang, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah meiat keselamatan yang dari pada-Mu…”  

Penantian bukanlah ambisi diri. Penantian adalah keterlibatan kita di dalam penggenapan keselamatan Tuhan Yesus Kristus. Inilah kerangka utama pelayanan kita. Di dalamnya kita bersabar tanpa kehilangan sukacita di dalam penggenapan-Nya.

Selamat menanti penghiburan sejati di dalam karya keselamatan Yesus Kristus. Ia telah datang, Ia akan datang kembali. Dan berbahagialah kita turut serta dalam karya penghiburan Tuhan Yesus Kristus bagi sesama yang menantikannya (2 Korintus 1:3-4).

 

Perkenankan kami, Reformational Worldview Foundation’s fellows mengucapkan:

Have a blessed Christmas 2012

 

Pdt. Joshua Lie

 

 

Total votes: 250
Go to top