Biblical Foundation
Theological Structure
Philosophical tools
Cultural Fields

Selamat Datang dan Bersekutu

Kami menyambut kehadiran bapak/ibu/sdr/sdri dengan sukacita di dalam damai sejahtera Tuhan kita Yesus Kristus. Wadah ini bermula dari kerinduan menjembatani kekayaan pemikiran Kristen seperti yang nampak dalam sejarah gereja Barat dengan pergumulan gereja dan orang Kristen Indonesia di manapun berada. Dan inilah usaha awal kami yang terdiri dari empat lapisan yaitu Alkitab sebagai dasar, theologia sebagai kerangka, filsafat sebagai alat, dan budaya sebagai ladangnya. Semuanya diramu dalam Wawasan Kristen yang dikembangkan dalam theologia dan filsafat Reformasi (Reformational theology and philosophy).

Follow Us On:



Kemuliaan Allah

RENUNGAN ADVENT 2012

And suddenly there was with the angel a multitude of the heavenly host praising God and saying,

“Glory to God in the highest,
    and on earth peace among those with whom he is pleased!” -- (Luke 2:13-14)

Mengikut Yesus

 

Pergantian tahun mengingatkan kita akan sejauh mana perjalanan hidup kita sudah berlangsung. Ia tidak berbicara soal bagaimana kita hidup. Ia tidak menyediakan kertas evaluasi kehidupan kita. Ia hanya bermaksud menyatakan seberapa banyak usia hidup kita.

Namun menariknya, penanggalan tidak dapat dihitung tanpa referensi. Sejarahwan gereja mula-mula, Eusebius menanggalkan kelahiran Kristus dengan referensi kepada penciptaan langit dan bumi. Ia dapati pada tahun ke 5200. Ketika kekaisaran Romawi berkuasa, maka penanggalan dihubungkan dengan “sejak Roma berdiri” (Ab Urbe Condita).

Kelahiran Tuhan Yesus menandai penanggalan yang kita gunakan saat ini. Kita menggunakan istilah B.C. (Before Christ) dan A.D. (Anno Domini, “in the Year of the Lord”). Tradisi ini dimulai oleh Dionysius Exiguus pada sekitar tahun 533 A.D. dan disempurnakan oleh Paus Gregory yang menciptakan penanggalan Gregorian. Sedangkan penggunaan B.C. merupakan karya Isidore of Seville (570-636 A.D.).

Maka pergantian tahun bukan lagi sekedar mengukur sudah berapa lama kita hidup di dunia ini, atau sudah berapa tua-kah perjalanan sejarah umat manusia, melainkan berkaitan dengan rangkaian karya Allah di dalam Kristus atas segenap ciptaan.

Untuk itu alangkah bijaknya jika kita merenungkan kembali perjalanan langkah kita dengan langkah-langkah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat. Langkah kita tidak semestinya diukur dengan odometer seperti mobil untuk menentukan nilainya, melainkan bagaimana posisi dan arah kita di hadapan Tuhan semesta alam.

Tidur

 

Seluruh kehidupan manusia ditandai dengan dua keadaan, yaitu bangun dan tidur.  Keduanya memberi makna bagi kehidupan itu sendiri. 

Kata tidur dalam bahasa Inggris (sleep) berasal dari kosa kata Jerman (schlafen) yang diambil dari kata Gothik “sleps” yang menandai kelelahan tubuh manusia. Kelelahan dan kerengangan otot menyatakan keadaan tubuh yang kemudian mengindikasikan tahapan kenyenyakan tidur seseorang.

Tags: 

Renungan Natal 2011

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merenung artinya diam memikirkan sesuatu, memikirkan atau mempertimbangkan dalam-dalam. Mengapa kita perlu merenungkan peristiwa Natal? Bukan untuk membuat kita termangu, bukan pula untuk mengenang atau sekedar nostalgia bulan Desember melainkan untuk memahami dan mengalami Natal yang sesungguhnya. Renungan pendek bermaksud menemani bapak/ibu/sdr/sdri untuk mengalami kelimpahan kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus dalam peringatan Natal.

Mari kita renungkan bersama:

1. Kelahiran Yesus Kristus merupakan peristiwa menakjubkan. Perpaduan antara Ilahi dan manusiawi berlangsung tanpa meniadakan ataupun merusak satu dengan lainnya. Kelahiran-Nya berlangsung dalam rahim perawan yang bernama Maria, oleh Roh Allah yang menenunnya. Dan bayi yang dilahirkan itu selayaknya bayi-bayi lainnya, bergantung sepenuhnya kepada sang ibu yang menjaga dan merawat-Nya. Saat yang sama, kelahiran bayi itu telah menakjubkan sang ibu ketika mendengar berita yang disampaikan Malaikat. Maria, seorang yang beribadah, tidak menyangkal maksud Allah baginya. Namun yang menjadi persoalan baginya adalah “bagaimana.” “Bagaimana hal ini mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34). Gereja sebagai umat tebusan TUHAN, sudah sepatutnya siap sedia seperti Maria ketika menerima maksud dan rencana TUHAN Allah atasnya. Namun pertanyaan Maria, mendorong kita untuk merenungkan langkah berikutnya. Langkah yang di dalamnya kita turut serta dalam maksud Allah itu. “Bagaimana” hal itu mungkin terjadi, merupakan kesediaan kita untuk turut serta sekaligus menguji apakah langkah kita seturut dengan maksud Allah yang kita terima itu. Gereja tidak hanya memahami misi dan visi TUHAN Yesus Kristus, namun memahami pula bagaimana turut serta dalam misi dan visi itu sehingga kasih karunia Allah digenapi di dalam dunia yang berdosa ini.

Vocation

Tags: 

Pages

Subscribe to Wawasan Kristen Online RSS
Go to top