City

Kidung Agung

Kidung Agung demikianlah kitab ini disebut. Memang demikianlah maknanya. Kitab ini menyampaikan kidung agung yang teragung yang dapat diutarakan dalam bahasa manusia.

Tidak mudah kita memahami kitab ini. Bukan karena kitab ini memang sukar dipahami, melainkan karena keadaan kita dan dunia sekitar kita yang menyulitkan kita. Kitab ini secara terbuka berbicara tentang kasih. Kasih yang bukan sekedar kata-kata, tetapi kasih yang dekat, yang intim, yang menyentuh, bukan sekedar melihat dan mendengar, bahkan kasih yang menyentuh dan mengecap. Tentu tidak mudah kita pahami karena kasih dalam dunia berdosa perlu dikekang. Tanpa pengekangan, kasih bisa menjadi liar dan merusak. Dunia moderen yang mementingkan penglihatan membawa manusia ke dalam jebakan pornografi. Melihat seolah-olah masih bisa dimaklumi daripada menyentuh dan mengecap. Maka berkobarlah kasih menjadi nafsu yang merusak.

Sebaliknya untuk meredam kebahayaan itu, kasih kita menjadi hambar. Banyak orang tua yang jarang memeluk anak-anaknya. Suami dan istri canggung menyatakan keintiman yang benar di depan anak-anak mereka.

Bagaimana kita sepatutnya memahami kasih yang sejati, kasih yang bersumber pada TUHAN dan kasih yang sudah dinyatakan dengan kedatangan Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal bahkan digenapi dalam kematian dan kebangkitan-Nya?

Subscribe to RSS - City
Go to top